Kamis, 08 Mei 2014

PERTANYAAN ANDA (4)



Pertanyaan:

Ustadz, berdasarkan pola pembentukan kata dalam ilmu Shorof dikatakan bahwa fi’il yang berpola “فَعَلَ - يَفْعُلُ” (FA’ALA – YAF’ULU) itu isim makannya berpola “مَفْعَلٌ” (MAF’ALUN). Tapi kenapa fi’il “سَجَدَ - يَسْجُدُ” (SAJADA – YASJUDU) isim makannya menjadi “مَسْجِدٌ” (MASJIDUN)? Mestinya kan kalau mengikuti pola menjadi “مَسْجَدٌ” (MASJADUN)? Mohon penjelasannya.

Jawaban:


Ya, memang benar. Sebagaimana yang telah dijelaskan di kitab-kitab shorof (Silakan baca di KITAB FAHIMNA SHOROF TINGKAT DASAR hal 52),  fi’il yang berpola “فَعَلَ - يَفْعُلُ” (FA’ALA – YAF’ULU) itu isim makannya berpola “مَفْعَلٌ” (MAF’ALUN).Misalnya:

“كَتَبَ - يَكْتُبُ” menjadi “مَكْتَبٌ” (Tempat menulis)
“خَرَجَ - يَخْرُجُ” menjadi “مَخْرَجٌ” (Tempat keluar)

Namun, ada beberapa isim makan yang menyalahi kaidah umum. Diantaranya:

“مَنْبِتٌ” (Tempat tumbuh)
“مَشْرِقٌ” (Tempat terbit)
“مَغْرِبٌ” (Tempat terbenam)

Karena kita dengar orang Arab mengucapkannya seperti itu, maka kita mengikutinya. Isim-isim makan yang seperti ini dikenal dengan istilah isim makan syadz (ganjil/menyalahi kaidah umum).

Demikian saja.

Wallahu a’lam.


Bogor, Jum’at pagi 9 Rajab 1435H/9 Mei 2014

Muhammad Mujianto al-Batawie

# Tambahan referensi bisa dibaca di SINI & di SINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar